Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

KENAPA SAYA JADI GURU?



KENAPA SAYA JADI GURU?
 


Ehem, Salam Pendidikan.
Salam kenal, bagi siapapun yang membaca postingan ini.
Saya Hilda, guru baru yang masih perlu banyak belajar. Hehe.
Saat ini saya sedang mengajar di sebuah SMK Negeri dan mengajar di jurusan akuntansi.
Sepeti judul postingan di atas, kali ini saya akan melantur tentang alasan saya menjadi guru.
Jadi kalau para pembaca sekalian sedang sibuk, bisa di skip sih, soalnya bakalan panjang. Hehe.
Well, nggak tahu kenapa ya, belakangan ini banyak yang nanya kenapa aku jadi guru, ada yang dari temen, keluarga, saudara, ada juga yang dari murid – murid.



Kenapa ya saya jadi guru?
Sebenarnya kalau ditanya kenapa saya jadi guru, saya masih suka bingung ngejawabnya. Hehe. Soalnya gimana ya, kadang ada saat – saat dimana saya juga kehilangan tujuan saya menjadi seorang guru.
Kalau saya jawab “karena saya ingin ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa” rasanya kedengaran sangat naif dan munafik deh ya.Hehe.
Tapi perasaan semacam itu harus ada sih, soalnya ketika menjadi guru perasaan itu haruslah terpatri sebagai pondasi dalam mengemban tugas sebagai seorang pendidik.

Kalau dipikir – pikir kenapa saya ingin menjadi seorang guru, mungkin jawaban itu sudah saya temukan ketika saya mengambil jurusan pendidikan sebagai pilihan kuliah.
Karena saya ingin menjadi guru, makanya saya berkuliah mengambil jurusan pendidikan. Bukannya kebalik, karena saya mengambil jurusan pendidikan, maka saya harus menjadi guru.

Yah, meskipun awalnya saya nggak yakin juga sih bakal jadi guru atau enggak. Apalagi dengan banyaknya doktrin dan prejudice kalau menjadi seorang guru itu menyusahkan, merepotkan, dan kurang menjajikan mengigat gaji guru yang masih kalah dari pekerjaan atau profesi yang lain. Tapi justru karena itu saya merasa tertantang dan ingin mencoba. Hehe.

Sebenarnya kalau ditanya kenapa jadi guru, saya punya sekitar 1000 alasan, hehe. Karena saking banyak itu lah mungkin sampek bingung harus menyampaikan yang mana dulu.
Dari sekian alasan tersebut, saya hanya akan melanturkan beberapa saja. Hehe.

Kalau ada yang bilang menjadi guru itu adalah panggilan hati, saya hampir 90% setuju. Kenapa 90% dan nggak 100%? Sebab yang 10% adalah motif lain, yang nggak murni, dan cenderung mainstream.
Mungkin sudah banyak denger kan kalau menjadi guru itu gajinya masih di bawah UMR (dan memang benar adanya). Jadinya kadang mikir kira – kira bisa buat beli ini nggak ya, bisa buat nabung nggak ya?
Yah, mungkin ini juga jadi pertimbangan utama pas milih pekerjaan ini.
Siapa sih yang mau capek – capek kerja tapi bayarannya nggak sesuai ekspektasi? Jawabannya adalah orang – orang yang mengikuti panggilan hati.
Karena kalau kita mencintai sesuatu, maka yang kerja keras dirasakan adalah dedikasi dan bukannya kerja rodi.
Iya deh mungkin ada yang bilang, ah nanti kan bisa jadi PNS, gajinya banyak, bisa leha – leha digaji negara jadi nggak papa lah kalau susah – susah sekarang.
Iya deh iya, tapi kalau jadi guru cuman ngejar title PNS, nggak bakalan deh awet jadi guru.
Ada loh yang baru jadi PNS setelah tujuh belas tahun mengajar, ada juga yang sampai puluhan tahun. Bayangin deh gimana rasanya kalau kita mengejar – kejar hal selama belasan tahun tanpa ada rasa kasih? Pasti bakalan capek sendiri kan? Macam cinta yang bertepuk sebelah tangan gitu lah.
Makanya menurut saya 90% alasan menjadi guru adalah panggilan jiwa dan cinta kasih.

Oke sekarang yang 10%. Yang 10% nya lagi adalah motif lain yang masing – masing orang bisa berbeda - beda, kalau saya sendiri sih pertama karena menganggap profesi ini mulia dan membanggakan kedua orang tua. Yah maklum lah saya masih tinggal di desa dimana profesi semacam guru, mantri, dan bidan masih menjadi profesi yang dianggap mulia dan berjasa.

Yang kedua, karena saya pikir pekerjaan ini santai, cocok untuk wanita single atau yang sudah berkeluarga.
Dan ternyata saya salah.
Sama kayak dokter, perawat, polisi, pemadam kebakaran, atau call center, pekerjaan sebagai guru itu adalah pekerjaan 24 jam selama 7 hari. Yah emang sih di kontrak tertulis saya mengajar sebanyak 26 jam selama 5 hari kerja, tapi pada kenyataannya pekerjaan saya masih berlanjut meskipun saya sudah meninggalkan tempat kerja.
Contohnya gini, misal ada siswa yang sms atau wasap jam 9 atau 10 malam nanya pekerjaan rumah atau ada pertanyaan yang sulit, pasti mau nggak mau harus dijawab dong. Atau semisal ada murid yang bermasalah di luar jam sekolah, tetep aja guru kadang harus ikut bertanggung jawab.

Yang ketiga, karena saya suka ngomong dan chit chat. Sebenarnya sih saya adalah seorang ambivert, jadi kadang bisa ekstrovert yang suka nyerocos dan kadang juga bisa diem banget. Nah, karena jadi guru bicara adalah salah satu cara untuk melakukan pekerjaan, jadinya klop banget deh sebagai tempat menyalurkan omongan plus energi. Hehe.

Trus balik lagi deh, kenapa sih saya jadi guru?


Kalau boleh saya bilang, sebenarnya pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sangat AJAIB?

Hehe. Kok bisa?

Jadi gini, kadang kalau pas nerima gaji, kalau dipikir – pikir bakalan kurang deh, eh nyatanya pas dijalanin ada aja rejekinya. Bisa datang dari murid, rekan guru, dan bahkan dari wali murid. Jadi ada nih wali murid yang ngasih saya voucher internet, nah kan lumayan tuh jadinya nggak perlu beli kuota. Hehe. Ada juga yang pas pingin ngemil, ada wali murid yang ngasih keripik segebok. Kan rejeki lagi tuh. Alhamdulillah. Jadi rejeki nggak cuman diitung melulu dari gaji, tapi bisa juga diitung dari sebuah kebaikan.

Trus karena jadi guru, rasanya kayak ada kesan istimewa gitu. Misalnya pas di bus yang dulunya nggak bakalan dikasih duduk pas penuh, sekarang jadi dikasih. Trus pernah pas antri di food court, malah diduluin. Trus pas ketemu anak – anak tetangga pada disalimin. Padahal mereka bukan murid saya di sekolah. Hahaha.
Trus kalau jadi guru kayak jadi semacam punya goodwill (nama baik) gitu di kalangan saudara. Padahal mah sebenarnya ya nggak baik – baik amat. Hehe.

Tapi yang paling ajaib dari pekerjaan ini adalah panggilan “Ibu” yang sekarang jadi imbuhan di depan nama saya. Nggak cuman di sekolah aja dipanggil “ibu” tapi juga pas di luar sekolah. Sama murid – murid dipanggil “Bu”, sama wali murid dipanggil “Bu”, sama rekan guru yang dulunya guru – guru saya juga dipanggil “Bu”, sama orang – orang di sekitar juga dipanggil “Bu”, sama orang – orang yang nggak kenal macam supir bis, pedagang di pasar, atau mbak – mbak “ind*mart” yang dulunya dipanggil mbak sekarang jadi dipanggil “Bu”.
Tapi lucunya saya sama sekali nggak merasa awkward atau merasa tua sih, malah lebih merasa graceful aja gitu.
Hehehe.

Oke deh, sekarang kalau boleh jujur, alasan saya menjadi guru itu sebenernya agak mellow dan cenderung cheesy sih. Hehe.
Gini, tujuan orang bekerja sejatinya adalah memperoleh penghasilan demi mencukupi kehidupan sehari – hari dan demi kelanjutan hidup di masa depan. Tapi ketika menjadi guru mungkin tujuan tersebut belum bisa terpenuhi seutuhnya, kalau dibilang kurang sih enggak, dibilang lebih juga enggak. Alhamdulillah cukup. Jadi bisa dibilang kalau jadi guru gaji bukan alasan utama saya mengambil pekerjaan ini, saya pikir saya ingin menjadi bagian dari hidup para siswa yang mungkin memang nggak signifikan tapi rasanya bahagia kalau ilmu yang kita sampaikan bisa terpakai atau diterapkan oleh mereka suatu saat. Saya sendiri terinspirasi menjadi guru karena saya telah bertemu dengan guru – guru yang hebat ketika saya bersekolah. Perasaan dan pengalaman yang diberikan oleh guru sampai saat ini masih saya kenang dan sangat berterima kasih pada jasa mereka. Makanya rasanya kepingin juga jadi pribadi semacam itu, yang suatu saat menjadi bagian kecil dari hidup seseorang.
Jadi kalau pas ada siswa yang bilang terima kasih atau bilang kalau pelajaran berguna di tempat lain, rasanya super bahagia. Hehe. Berasa apa yang dikerjakan dan diberikan kepada siswa akhirnya mempunyai manfaat dan berguna. Menurut saya, menjadi berguna bagi orang lain adalah perasaan yang paling menyenangkan yang pernah saya rasakan.

Semoga saya tetap bisa menjadi orang yang berguna dan bisa menjadi guru yang lebih baik lagi ke depannya! (Amin)


Salam pendidikan!